Menanti Pergantian Tahun: Sebuah Refleksi


Ilustrasi pergantian siang dan malam

Pada sekitar tahun 2000-an ketika masih menduduki posisi sebagai pimpinan pada salah satu lembaga kemahasiswaan di STAIN (sekarang IAIN) Kendari, sempat membaca sebuah buku yang dikarang oleh Ali Syari’ati dengan judul Islam Agama “Protes”. Buku tersebut tergolong tipis bila dibandingkan dengan buku bacaan di perguruan tinggi pada umumnya, tetapi justru karena tipis dan dikarang oleh salah seorang akademisi yang banyak mengambil peran dalam suksesnya revolusi Iran, maka jadilah sebagai buku yang banyak diminati mahasiswa terutama dari kalangan yang berlabel “aktivis”. Bagi saya, yang menarik dari isi buku tersebut adalah ketika sang author, menguraikan “paradigma penantian”. Menurut Ali Syari’ati, menanti adalah peristiwa sosio-kultural yang akan senantiasa dihadapi oleh manusia. Menanti adalah takdir yang akan di alami oleh manusia, kapan dan dimana saja berada, dan proses itu berjalan secara terus-menerus seiring dengan berjalannya waktu. Penulis kemudian mengilustrasikan tentang berjalannya proses penantian yang dialami oleh manusia, bahwa “ketika di waktu pagi, manusia sebenarnya menanti, yaitu menanti datangnya siang, ketika diwaktu siang juga menanti datangnya sore. Ketika berada di waktu malam, maka manusia sebenarnya menanti, yaitu menanti datangnya pagi. Ketika sedang sakit, kita menanti datangnya sehat, ketika sibuk lalu kita menanti datangnya waktu senggang, ketika muda kita menanti datangnya waktu tua, dan seterusnya. Proses ini berjalan secara alamiah dan dialami oleh setiap orang. Aspek yang akan membedakan adalah bagaimana kita menyikapi masa-masa penantian itu, apakah kita menyikapinya secara positif atau sebaliknya. Apakah kita dapat mengisinya untuk menghadirkan perubahan atau justru kerusakan. Pada konteks ini, konsep al’amru bil-ma’ruf wannahyu’anil-mun’kar menjadi sangat relevan.
Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa “sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya siang dalan malam terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”. “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS: Ali Imran, 190-191). Ayat ini sangat menarik karena, Allah mengingatkan kita tentang ‘penciptaan langit dan bumi’ serta proses silih bergantinya ‘siang dan malam’. Bahwa dibalik penciptaan tersebut terdapat bahan kajian dan renungan, dan yang dapat melakukan itu adalah orang-orang yang masuk kategori ‘ulil al-bab’. Siapa yang masuk kategori ulil al-bab adalah orang-orang yang senantiasa menggunakan akal pikirannya guna memahami hakikat penciptaan alam semesta.
Dalam kajian-kajian kosmologi, langit dilihat sebagai sumber dari apa yang telah diturunkan Tuhan ke bumi dan kepada manusia, misalnya air, dan bahan makanan. Secara kualitatif, langit itu tinggi, aktif, dan kreatif, sedangkan bumi itu rendah, reseptif, dan subur (Murata, 2000: 174). Langit seringkali dihubungkan dengan laki-laki, bapak, dan maskulinitas, sedangkan bumi dihubungkan dengan perempuan, ibu, dan feminitas. Aspek keseimbangan mengenai penciptaan langit dan bumi, siang dan malam, laki-laki dan perempuan, bapak dan ibu, mempunyai “kemiripan” dengan konsep Ying dan Yang dalam ajaran Taoisme (Baca The Tao of Islam; Sachiko Murata). Demikian halnya siang dan malam, siang berhubungan dengan terang, cahaya, aktif, sedangkan malam berhubungan dengan gelap, kelam, pasif, dan sebagainya. Langit dan bumi mempunyai hubungan dengan siang dan malam, dan dengan demikian juga berhubungan dengan waktu, mulai dari detik, menit, jam, hari, bulan hingga tahun. Bisa jadi kita sudah pernah renungkan, atau mungkin belum sama sekali, bahwa “apa yang akan terjadi jika tidak ada siang atau tidak ada malam”, jika tidak ada pergeseran waktu, apakah masih akan ada pergantian tahun? Karena kesempurnaannya, Allah lalu menciptakan langit dan bumi, dilengkapi dengan hadirnya siang dan malam secara bergantian, lalu terjadilah pergeseran waktu setiap saat, yang menjadikan tahun terus berganti.
Kini, masyarakat dihadapkan dengan momen pergantian tahun memasuki 2017. Segala persiapan telah dimatangkan guna menyambutnya. Mulai dari mendatangi kota atau kembali ke desa, menyiapkan makanan khas, memborong jutaan kembang api, membeli trompet yang siap ditiup sekuat-kuatnya memasuki pergantian tahun, mengundang artis ibu kota, dan lain sebagainya. Yang nampak dari semua persiapan tersebut adalah seremoni, dan bahkan euphoria. Kita bergembira karena telah diberikan umur yang panjang, rezki yang melimpah, kedudukan yang tinggi, pengaruh yang luar biasa, harta yang banyak, atau keluarga yang harmonis seiring dengan bertambahnya tahun. Lalu kita lupa bahwa sebenarnya hidup kita, dalam pergantian waktu setiap saat hanyalah berada dalam ruang “penantian”. Saat ini sehat, suatu saat pasti sakit, hari ini muda dan kuat, suatu saat pasti akan tua dan renta, hari ini berkedudukan, esok pasti non job atau pensiun, hari ini kelebihan, suatu waktu akan kekurangan, hari ini powerful besok powerless, hari ini strongest kedepan strongless, hari ini tersenyum karena kelahiran, tapi suatu saat akan menangis karena kematian. Apakah kita akan menghindar dari menanti semua itu? Tentu tidak, karena itu sudah menjadi takdir, yang dalam bahasa Ali Syari’ati sebagai peristiwa sosio-kultural.
Mungkin akan lebih baik, sembari menyiapkan seremoni perayaan pergantian tahun, kita merenungkan perjalanan hidup kita. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa “orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari pada hari ini”. Apa yang kita sudah lakukan di ‘hari kemarin’, apa yang sudah kita lakukan di ‘hari ini’, dan apa yang akan kita lakukan di ‘hari esok’, semuanya tergantung pada kita sendiri. Yang pasti bahwa, “demi masa. Sesunggunya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman yang mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran” (Qs Al-Ashr; 1-3). Semoga di tahun 2017 serta tahun-tahun selanjutnya, kita dapat merubah diri menjadi lebih baik lagi dalam segala hal. Wallahu a’lam bish-shawab  

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Menanti Pergantian Tahun: Sebuah Refleksi"

Posting Komentar