Merubah Mitos, Menyerap Logos, Membangun Etos (Refleksi Maulid Nabi Muhammad SAW 1438 H)


Ilustrasi Peringatan Maulid (di copy dari Ihaiyo.com)

Sudah menjadi ritual tahunan, bahwa setiap tanggal 12 rabi’ul awal dalam penanggalan hijriyah, akan dilaksanakan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Masyarakat nusantara menyebutnya dengan Maulid, dalam terminologi Jawa dikenal dengan Muludan, sedangkan masyarakat Buton (Wakatobi) mengenalnya dengan istilah Maluju atau Maludhu. Secara etimologi, kata maulid berasal dari Bahasa Arab yang artinya sama dengan milad atau hari kelahiran. Istilah ini digunakan karena merujuk pada hari lahirnya Nabi Muhammad SAW. Jika merujuk pada Al-Qur’an dan Al-Hadist, kita tidak akan menemukan adanya ayat atau hadist yang menjelaskan tentang wajibnya melaksanakan maulid; demikian pula jika kita sandarkan pada apa yang pernah dilaksanakan oleh Rasulullah Muhammad SAW semasa berdakwah baik di Mekkah maupun Madinah serta pada masa kepemimpinan Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar As-Siddiq, Umad bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib), maka kita juga akan mendapatkan bahwa ritual tersebut tidak pernah dilaksanakan. Bisa jadi, hal inilah yang menjadi landasan sebagian kalangan dari kaum muslimin mengatakan bahwa ritual maulid adalah bid’ah (ibadah yang di ada-adakan). Argumentasi ini semakin menguat karena pada setiap pelaksanaan maulid terdapat sejumlah cerita-cerita mistis (mitos) yang kemudian ikut mempengaruhi bagaimana ritual maulid dilakukan. Hal ini misalnya dapat dilihat dari adanya serangkaian ritual serta ragam menu yang ‘wajib’ diadakan. Ada suatu keyakinan bahwa jika sebagian dari seluruh rangkaian ritual tidak terpenuhi, dan sebagian dari menu wajib itu tidak disajikan maka akan mengurangi nilai kesakralan ritual maulid.
Tetapi ada banyak kaum muslimin yang meskipun tradisi ini diakui sebagai bid’ah, namun tetap melaksanakan peringatan maulid. Bagi mereka, konsep bid’ah dapat dilihat dalam dua perspektif. Pertama adalah, bid’ah sayyi-ah yakni ritual keagamaan yang tidak mempunyai dalil naqli yang kuat (tidak ada dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist), tidak pernah di praktekkan oleh Rasulullah SAW, dan tidak mempunyai manfaat. Jenis bid’ah ini harus ditinggalkan. Kedua adalah bid’ah hasanah, yaitu tradisi keberagamaan yang meskipun tidak ditemukan dasarnya dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist serta tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, tetapi mempunyai banyak sisi manfaat. Dengan demikian, yang menjadi rujukan adalah dalil aqli (dalil akal). Jenis bid’ah seperti ini, meskipun tidak wajib tetapi sangat dianjurkan, demi untuk mengambil hikmah serta melestarikan khasanah budaya Islam. Dalam konteks ini, tradisi maulid, muludan, maluju atau apapun istilahnya berada pada kategori ini.
Ada ulama mengatakan bahwa peringatan maulid Nabi Muhammad SAW pertama kali dilakukan oleh Raja Ibril yang bernama Muzhaffaruddin Al-Kaukabari pada awal abad ke 7 Hijriyah. Ibril adalah salah satu tempat yang saat ini masuk dalam wilayah Irak. Namun sebagian juga mengatakan bahwa orang pertama yang memperingati maulid nabi  adalah Sultan Salahuddin Al-Ayyubi. Kegiatan itu sengaja diadakan dengan maksud memberikan semangat juang kepada kaum muslimin yang sedang berperang melawan tantara salib ketika menaklukan Konstantinopel.
Di Indonesia, peringatan maulid nabi tidak hanya menyangkut peristiwa yang mempunyai dimensi kesejarahan, tetapi juga menyangkut dimensi kesakralan. Dimensi kesakralan tersebut sangat erat hubungannya dengan sosok Nabi Muhammad yang diyakini oleh kaum muslimin sebagai pembawa rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil’alamin). Nabi Muhammad SAW diyakini sebagai sosok paripurna yang dalam ajaran tasawuf di istilahkan dengan insan kamil. Karena kesempurnaannya, lalu beliau diberi gelas Al-Amin (orang yang dapat dipercaya), dan karena kesempurnaannya pula, kemudian menjadi uswatun hasanah (contoh/teladan yang baik). Dengan demikian, apa yang harus dirubah dalam peringatan maulid nabi adalah dimensi mitosnya. Cerita-cerita sakral yang menyelimuti sekitar pelaksanaan maulid yang “mengharuskan” adanya serangkaian ritual tertentu serta menu “wajib” yang disajikan dalam bentuk Liwo (Wakatobi) atau Kandea (Buton) mesti dirubah. Apakah lagi bahwa jika serangkaian ritual serta menu dalam peringatan maulid tersebut sifatnya memberatkan. Mungkin ada sebagian kaum muslimin yang kemampuan ekonominya sederhana, sehingga tidak mampu menyiapkan segala kebutuhan terkait dengan ritual maulid. Apa yang harus dikedepankan adalah menyerap logos (ilmu pengetahuan), karena peristiwa maulid mempunyai muatan hikmah. Ada banyak nilai-nilai pengetahuan yang mesti dikaji dari peristiwa maulid; mulai dari bagaimana Nabi Muhammad dibesarkan dalam kandungan oleh ibunya, bagaimana proses kelahirannya, apa hikmah menjadi anak yatim piatu, siapa yang membesarkan, bagaimana peranan Halimah as Sa’Diyah, bagaimana peranan kakeknya Abdul Muthalib dan pamannya Abu Thalib, bagaimana kultur Mekkah ketika Muhammad kecil dibesarkan, dan lain sebagainya. Kajian mengenai sejumlah pertanyaan yang berkaitan dengan kelahiran nabi akan memberikan wawasan dan pengetahuan baru yang sangat berarti.
Setelah menyerap logos (ilmu pengetahuan), maka langkah selanjutnya adalah membangun etos, yaitu semangat keberagamaan yang kuat. Tentu spiritnya adalah mencontoh apa yang telah dipraktekan oleh Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, memperingati maulid nabi tidak sekedar melakukan refleksi sejarah, juga tidak berhenti sampai menyerap hikmah dibalik semua peristiwa yang dialami oleh nabi, tetapi maulid hendaknya menjadi wadah memperkokoh ukhuwah islamiyah serta membangun komitmen untuk melaksanakan ajaran Islam sebagaimana yang telah di contohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Dalam beribadah, Rasulullah adalah orang yang paling khusyuk, sehingga terkadang kakinya membengkak karena terlalu lama berdiri ketika shalat sendiri di rumah; ketika shalat berjamaah di masjid dan menjadi imam, maka beliau pasti akan membaca surat-surat pendek, ketika shalat sendiri di rumah maka pasti akan membaca surat yang panjang, beliau adalah orang yang paling rajin bertaubat, padahal orang yang paling pertama diterima taubatnya adalah beliau; juga yang paling pemaaf, paling ramah, paling santun, paling dermawan, dan lain sebagainya. Tentu, meneladaninya secara totalitas bukanlah persoalan gampang, apalagi kita adalah manusia biasa yang tidak luput dari kehilafan. Semoga maulid nabi kali ini, dapat menjadi momentum untuk merubah mitos agar ritual maulid tidak membebani, menjadi wahana menyerap ilmu pengetahuan serta membangun etos keberagamaan. Wallahu a’lam bish-shawab

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Merubah Mitos, Menyerap Logos, Membangun Etos (Refleksi Maulid Nabi Muhammad SAW 1438 H)"

Posting Komentar