Ketika Muhammad SAW ‘Menangis’

Hikmat Jum'at


Ilustrasi

Pasa suatu kesempatan, Bilal bin Rabba merasakan adanya keanehan pada diri Rasulullah Muhammad SAW. Subuh itu, Bilal sudah selesai mengumandangkan Azan hingga ketika sudah selesai qamat, Muhammad belum juga muncul di Masjid. Situasi ini bagi Bilal adalah hal yang tidak lumrah, karena beliau mengetahui bahwa Rasulullah senantiasa tepat waktu datang di Masjid, selalu lebih duluan sampai di Masjid sebelum azan subuh di kumandangkan. Bilal kemudian menyusul ke rumahnya Muhammad SAW yang kebetulan bersampingan dengan masjid. Setelah mengucapkan salam lalu masuk ke rumah, di dapatinya Rasulullah sedang menangis. Bekas air mata di wajah dan tempat sujudnya masih nampak oleh Bilal. Ia kemudian menanyakan perihal apa yang sedang menimpa Rasulullah.
Rasulullah Muhammad SAW kemudian menceritakan kepada Bilal, muazin kesayangannya itu, bahwa ia baru saja menerima Wahyu dari Allah, dan wahyu inilah yang membuatnya menangis. Rasul kemudian membacakan wahyu itu kepada Bilal yang artinya, “sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “wahai Tuhan kami, tidaklah engkau ciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka” (Ali Imran; 190-191).
Mendengar wahyu yang dibacakan oleh Rasulullah, Bilal tidak menangis, Bilal memahami ayat tersebut hanyalah peringatan biasa sebagaimana ayat-ayat Al-Qur’an yang lainnya. Tetapi Rasul mempunyai pemahaman yang jauh lebih mendalam atas kandungan ayat tersebut, itulah sebabnya ia sampai menangis.
Ayat tersebut diawali dengan uraian tentang penciptaan langit dan bumi, serta bergantinya siang dan malam secara terus-menerus. Bagaimana Allah menciptakan langit dan bumi serta bagaimana malam dan siang saling menutupi secara silih berganti adalah bukti ke-Maha Kuasaan-Nya. Tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa kehendak-Nya. Langit ditinggikan dengan segala sumber rejeki yang turun darinya, dia tetap kokoh yang menjadi “payung” bagi bumi, bumi kemudian dihamparkan dan ikhlas menjadi tempat “pijakan” lalu tumbuh segala sumber penghidupan. Didalamnya ada gunung, lembah, sungai, lalu ada daratan lengkap dengan lautnya, ada tanah yang subur juga ada yang tandus, tumbuh buah-buahan serta sayur-mayur. Setelah itu dijadikan siang agar manusia bertebaran mencari rizki yang halal dan baik, lalu dijadikan malam sebagai waktu beristrahat, Allah sudah mengetahui kapasitas manusia dalam bekerja, karena itu disiapkan waktu guna memulihkan tenaga untuk digunakan pada waktu selanjutnya.  Semunya itu adalah tanda atau alamat kebesaran Allah, bagi orang-orang yang disebutnya dengan ‘Ulul Albab’.
Mereka yang masuk kategori Ulul Albab adalah orang-orang yang senantiasa menggunakan logic-nya, menggunakan rasionalitasnya untuk memahami hakikat penciptaan alam semesta. Mereka lalu senantiasa mengingat Allah setiap saat, apakah sedang berdiri, dalam posisi duduk, dan bahkan sedang berbaring, karena menyadari bahwa tidak ada satupun yang diciptakan oleh Allah di alam raya ini bersifat sia-sia, semua memberi manfaat bagi kehidupan manusia. Atas kesadaran itu orang-orang yang masuk kategori Ulul Albab senantiasa memuji Allah sebagai zat Yang Maha Suci serta senantiasa berdo’a agar dihindarkan dari siksaan Api neraka.
Sudahkan kita termasuk orang-orang yang Ulul Albab? Ataukah kita masih menjadi orang-orang yang bangga dengan kemampuanya, lalu menganggap semua sukses yang diraih adalah karena usaha sendiri, tanpa intervensi Tuhan. Kita masih berkutat dengan keegoan kita, bahwa jabatan tinggi yang kita peroleh, honor banyak yang kita dapatkan, keuntungan banyak yang kita raih, harta banyak yang kita kumpulkan, rumah mewah yang kita bangun, kendaraan mewah yang kita pakai, dan lain sebagainya adalah berkat kemampuan dan skill yang dimiliki, lalu kita lupa mengingat Tuhan. Jika segala yang dimiliki menjadikan kita semakin pandai bersyukur dan banyak mengingat Allah, maka Insya Allah kita telah menjadi orang-orang yang Ulul Albab, tetapi apabila ‘kehadiran’ Tuhan dalam diri kita semakin jauh, semakin hampa seiring dengan bertambahnya usia, harta, kedudukan, dan status sosial yang kita miliki, maka kita berarti masih jauh dari kategori itu.
Nampaknya, inilah yang ditangisi oleh Rasulullah Muhammad SAW, beliau memahami betul kandungan makna dari wahyu yang turunkan oleh Allah padanya. Itulah sebabnya, beliau adalah orang yang paling rajin beribadah, paling sering bertobat dan memohon ampun, serta selalu bersyukur dan mengingat Allah. Bagaimana dengan umatnya? Bagaimana dengan kita yang jangankan mendalami makna yang terkandung dalam setiap ayat-ayat Al-Qur’an, membacanya saja jarang. Sehari, seminggu, sebulan, setahun, atau entah seberapa sering kita membaca Al-Qur’an? Jangan-jangan kita masih lebih lama menggunakan waktu untuk hal-hal yang tidak berguna, dari pada mengingat Allah, lebih banyak waktu untuk menghitung-hitung bekal untuk hari ini, lalu kita lupa dengan bekal untuk hari esok. Jangan sampai kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk berpikir dan mengingat harta, daripada mengingat berpikir dan mengagungkan asma Allah. Jika demikian, maka wajarlah Rasulullah SAW menangis ketika menerima wahyu tentang hakikat penciptaan langit dan bumi (Ali Imran; 190-191). Mari kita tata hidup ini, semoga menjadi hamba Allah yang senantiasa pandai bersyukur, dan selalu berzikir kepada Allah SWT. Wallahu a’lam bish-shawab

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Ketika Muhammad SAW ‘Menangis’"

Posting Komentar