Kisah Sulaiman dengan Ratu dari Negeri Saba’


Hikmah Jum’at

Ilustrasi
Salah seorang Nabi yang diabadikan dalam Al-Qur’an adalah Sulaiman as. Selain karena akhlaknya yang bagus, rajin beribadah, juga memiliki kerajaan yang sangat besar. Besarnya kerajaan yang dimiliki oleh Sulaiman as, bukan hanya pada aspek demografis dan geografis, tetapi mencakup seluruh manusia, hewan, dan bangsa jin. Dalam Al-Qur’an surah an-Naml ayat 17, dikatakan bahwa “Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia, dan burung lalu mereka diatur dengan tertib (dalam barisan)”. Namun besarnya kerajaan yang dimiliki tidak menjadikannya lupa kepada Allah.

Dalam suatu kisah, diceritakan bahwa Nabi Sulaiman as, melakukan rapat guna membahas berbagai persoalan yang sedang dihadapi. Ketika masuk pada agenda pembahasan persoalan kekeringan dan menipisnya cadangan air yang dialami negerinya, Nabi Sulaiman tidak melihat burung Hudhud hadir. Padahal burung tersebut sudah diberikan tugas untuk mendeteksi keberadaan air dalam perut bumi serta mengontrol para pekerja yang sedang menggali untuk mengeluarkan air guna memenuhi kebutuhan warga. Tiba-tiba Nabi Sulaiman bertanya, “mengapa aku tidak melihat Hudhud, apakah dia termasuk yang tidak hadir? Sungguh aku akan mengazabnya dengan azab yang keras atau menyembelihnya kecuali jika dia datang kepadaku dengan alasan yang terang”. Tidak lama kemudian datanglah Hudhud, lalu berkata, “aku telah mengetahui sesuatu yang engkau belum mengetahuinya; dan kubawa kepada engkau dari negeri Saba' suatu berita penting yang meyakinkan”. Hudhud menyampaikan kepada Sulaiman, “sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka. Dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari. Sungguh, setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan mereka, lalu menghalangi mereka dari jalan Allah. Akibatnya, mereka tersesat dan tidak mendapatkan petunjuk. Padahal, tiada Rabb Yang disembah kecuali Dia, Rabb yang mempunyai ‘Arsy yang besar”.

Menanggapi laporan Hudhud, Sulaiman berkata, “akan kami lihat apakah kamu benar ataukah kamu termasuk orang-orang yang pendusta. Pergilah dengan membawa surat ini, kamu sampaikan pada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka. Lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan”.

Sebagai respon atas surat yang dikirim oleh Sulaiman untuknya, Ratu Bilqis lalu melakukan musyawarah. Ia menyampaikan kepada para pembesarnya bahwa ia telah menerima surat dari Sulaiman yang didalam surat tersebut tertulis, “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kalian berlaku sombong kepadaku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”. Ratu Bilqis lalu meminta pertimbangan dari para pembesarnya. Mereka lalu menjawab “kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan keberanian yang besar dalam peperangan, dan keputusan berada di tanganmu, maka pertimbangkanlah apa yang engkau akan perintahkan”. Dia berkata, sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya menjadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat. Sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan membawakan hadiah, dan aku akan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu”.

Ketika utusan dari negeri Saba’ bertemu Sulaiman dan menyerahkan hadiah, maka Nabi Sulaiman menolaknya. Hati Sulaiman tidak mampu ditaklukan dengan sogokan harta, Sulaiman telah memiliki apa yang telah diberikan oleh Allah kepadanya jauh lebih baik dan lebih banyak. Nabi Sulaiman kemudian meyuruh kambali utusan itu, sambil menitip pesan bahwa akan didatangkan pasukan yang membuat mereka tidak kuasa melawannya, mengusir mereka, serta menjadikannya tawanan-tawanan yang hina.

Setelah para utusan tersebut kembali ke negeri Saba’, Sulaiman lalu memerintahkan salah seorang anak buahnya untuk memindahkan istana Ratu Bilqis ke istana Sulaiman, singgasananya kemudian dirubahnya dalam bentuk yang lain. Ketika Ratu Bilqis datang menghadap, ditanyakanlah kepadanya, Sulaiman lalu bertanya, “serupa inikah singgasanamu?” Bilqis menjawab, Seakan-akan singgasana ini milikku”. Dikatakan kepadanya, “masuklah ke dalam istana”. Ketika melihat lantai istana itu, ia mengiranya kolam air yang besar. Ia pun berjalan sambil menyingkap kain yang menutupi kedua betisnya. Sulaiman berkata, “sesungghnya ia adalah lantai transparan yang terbuat dari kaca”. Bilqis lalu berkata, “Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman  kepada Allah, Rabb semesta alam” (F. Nursyam, 2016; 336-337).

Dari kisah ini, terdapat beberapa hikmah yang dapat kita petik. Pertama, kepemimpinan membutuhkan kemampuan komunikasi. Sulaiman mampu menggerakkan bangsa jin dan burung karena memiliki kemampuan berkomunikasi dengan mereka. Juga karena kemampuan komunikasilah yang menjadikan Ratu Bilqis terketut hatinya untuk menghadap Sulaiman ketika membaca suratnya. Salah satu bait surat yang dikirim oleh Sulaiman kepada Bilqis tertulis “innahu min sulaiman, wa innahu bismillahirrahmanirrahim” (sesungguhnya surat ini dari Sulaiman, dan sesungguhnya dia menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Kedua, jabatan seringkali membuka ruang sogok, karena itu dibutuhkan integritas dan ketegasan untuk menolak segala pemberian demi mendekatkan diri kepada Allah. Nabi Sulaiman memiliki banyak harta, tetapi tidak rakus dengan harta. Itulah sebabnya, ketika hatinya hendak ditaklukan dengan harta oleh Ratu Bilqis, maka dengan tegas ia menolaknya. Harta tidak menjadikannya lupa kepada Allah, tetapi justru semakin dekat kepada Allah. Bahkan diceritakan bahwa Sulaiman pernah menyembelih puluhan ekor kudanya kesayangannya, hanya karena ketika memperhatikannya, ia lalu keasyikan sampai melewati waktu ashar. Ketiga, diatas langit masih ada langit; diatas kekuasaan masih ada kekuasaan. Ratu Bilqis memiliki kekuasaan, tapi ternyata tidak seberapa dengan kekuasaan yang dimiliki oleh Sulaiman as. Sehebat apapun kita, secerdas dan sekuasa apapun kita, pasti ada yang Maha cerdas dan Maha Kuasa. Maka hendaknya kecerdasan, kekuasaan, kehebatan, serta pengaruh yang kita miliki digunakan untuk mengajak orang dalam kebaikan, senantiasa dalam rangka mengabdikan diri kepada Allah SWT. Barakallahu lana wa lakum. Wallahu a’lam bish-shawab
Kompleks Samirono, Depok Sleman DIY, 31 Maret 2017

Postingan terkait:

1 Tanggapan untuk "Kisah Sulaiman dengan Ratu dari Negeri Saba’"

  1. Kini hadir Permainan baru di Pianopoker.net🤩🤩🤩
    Bandar66
    Bandar66 merupakan game terbaru yang paling diminati saat ini , buruan login dan rasakan permainan baru yang fantastis yaitu Bandar66 hanya di Pianopoker.net

    Dan Dapatkan Jutaan Rupiah Dengan Mudah Hanya Di Pianopoker.net
    Real Website, Real Player Vs Player, Real Winner
    Buktikan Sekarang Juga Bersana kami hanya di PianoPoker

    Raih Bonus Extra Jumbo :
    - Bonus Extra Jumbo Rollingan ( dibagikan setiap 5 hari sekali )
    - Bonus Refferal Seumur Hidup

    CS Ramah & Profesional Siap Melayani 24 Jam
    Proses Transaksi Di Jamin Super Cepat
    Kartu Bagus (Easy To Winn)
    Support 5 Bank Local :
    - BCA
    - MANDIRI
    - BNI
    - BRI
    - DANAMON

    Minimal Deposit & Withdraw Hanya 20Rb
    Jangan Mikir Lagi Bos !!
    Jalan dan Kesempatan Sudah Ada Di Depan Mata
    Jangan Sia-Siakan Kesempatan Yang Ada bos !!
    Ingat Bahwa Kemenangan Bergantung Kepada Pilihan Anda.
    Jangan Sampai Salah Pilih Situs , Untuk Jadi Jutawan Pianopoker.net Solusimya !!

    Link : PianoPoker.Net

    Join Sekarang Juga !! Kami Tunggu Kehadirannya Para Calon Jutawan

    BalasHapus