Pulau Sumanga; Riwayatmu Kini



Pulau Sumanga
Pulau Sumanga, terletak dibagian paling selatan pulau wangi-wangi, berada dalam wilayah administrasi Desa Liya Togo, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi. Dari Liya, pulau ini nampak berhadapan langsung dengan Pulau Hoga di Kecamatan Kaledupa. Letak pulau Sumanga, bersama Komponaone (masyarakat Liya menyebutnya Oroho), Simpora, dan Pahara (Pahara Favo, Pahara Tonga-Tonga, dan Pahara Foru) seperti palung yang berjejer untuk mengahalau setiap hempasan ombak keras yang mengarah ke Liya. Perairan di wilayah Liya kemudian menjadi sangat aman pada setiap bergantian musim. Dibandingkan dengan pulau Komponaone, pulau Sumanga masih kalah populer. Lalu lintas pelayaran laut, dari Wangi-Wangi menuju Kaledupa, Tomia, dan Binongko selalu melewati laut bagian luar pulau Komponaone, sehingga posisi pulau Sumanga selalu tertutupi.
Dahulu hingga sampai dengan tahun 2000-an, Sumanga adalah pulau yang sangat indah dan eksotis. Hamparan pasir putih yang sangat tebal disetiap pesisir pantainya serta banyaknya pohon cemara yang tubuh subur di pulau ini, menjadikannya sebagai tempat rekreasi sekaligus tempat bermain pasir yang sangat menyenangkan. Bila malam pada musim terang bulan, kepiting pasir “menari-nari” diatas gundukan pasir yang sangat banyak itu. Masyarakat Liya terbiasa mengejar dan menangkap kepiting-kepiting itu karena rasanya yang sangat gurih. Kami (orang Liya) menyebutnya dengan dhara-dhara, setiap kali dikejar pasti kepiting itu akan segera bersembunyi di lubangnya, tapi kemudian akan tertangkap karena lubang persembunyiannya hanyalah pasir yang dengan gampang digali. Pada waktu terang bulan, kami juga terbiasa tidur diatas pasir. Selain karena pasirnya sangat bersih, juga karena air laut tidak pernah pasang hingga sampai menutupi pasir.
Disamping pasir putihnya, pulau Sumanga juga terkenal dengan suburnya pohon cemara. Dari kejauhan, yang nampak dari pulau Sumanga hanya dua jenis pohon, yaitu cemara dan nyiur. Lantaran banyaknya pohon cemara, apabila daunnya tertiup angin akan menghasilkan suara yang mirip dengan bunyi hujan. Bagi orang yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di pulau ini, dia akan selalu kaget mendengar bunyi hujan, padahal itu adalah bunyi daun cemara yang sedang diterpa angin.
Tapi, situasi sekarang sudah berbeda, sangat memprihatinkan. Pasir putih yang sangat bersih dan tebal yang menghiasi bibir pantainya, kini sudah habis. Demikian pula dengan pohon cemara yang tumbuh subur yang menjadikan pantai Sumanga sangat teduh kini tinggal satu dua pohon, semua pada tumbang karena abrasi. Kemana pasir di pulau Sumanga yang dahulu sangat banyak? Ternyata pasir itu habis karena eksploitasi oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Nampaknya, geliat pembangunan di daerah yang terus meningkat sejak tahun 2003 menjadikan harga pasir semakin mahal dan semakin laris dipasaran. Situasi ini kemudian dimanfaatkan oleh oknum-oknum “pencuri” untuk mencuri pasir pantai Sumanga secara berlebihan. Bahkan menurut informasi dari teman yang tidak ingin disebutkan namanya, pasir itu dicuri pada malam hari dalam jumlah yang sangat banyak. Ironisnya, meskipun hal tersebut sudah diketahui oleh masyarakat atau aparat desa, tetapi tidak pernah diberikan teguran, sanksi, atau dilaporkan kepada pihak berwajib. Akibatnya, kini pasir Sumanga terkikis habis, sementara para pelaku eksploitasi masih melenggang bebas dan mungkin akan tersenyum puas sambil menghitung-hitung jumlah uang hasil penjualan pasir curiannya.
Pantai mengalami abrasi
Apakah para eksploisator pasir ini sudah berhenti seiring dengan habisnya pasir di pulau Sumanga? Saya yakin mereka belum berhenti, dan pasti garapan selanjutnya adalah pasir di pulau Komponaone. Mengapa? Karena semua tempat-tempat pasir di wilayah Liya sudah disikat habis semuanya, termasuk wilayah Loponi, Rese, Dongkala, Kema, dan sebagainya. Lalu siapa yang dapat kita harapkan untuk dapat berperan aktif menjaga serta menyelamatkan pasir pantai yang saat ini masih tersisa? Mengharapkan aparat penegak hukum dan pemerintah daerah, rasanya masyarakat sudah mulai pesimis. Masa sepuluh tahun lebih (jika dihitung sejak tahun 2003) bukanlah waktu yang singkat jika ada kemauan untuk melestarikannya. Faktanya bahwa pasir pulau Sumanga dan beberapa tempat lainnya kini sudah terkikis habis. Satu-satunya institusi yang kita harapkan untuk secara tegas menghentikan kegiatan penambangan pasir pantai secara ilegal adalah Pemerintah Desa setempat (Desa Liya Togo). Selain karena beberapa tempat eksploitasi pasir yang telah disebutkan sebelumnya berada dalam wilayah administrasi Desa Liya Togo, Desa ini juga adalah salah satu Desa penerima DD (dana desa) dan ADD (alokasi dana desa) terbanyak se-Kabupaten Wakatobi. Melalui dana desa maupun alokasi dana desa, pemerintah desa dapat membuat regulasi, program maupun kegiatan yang mengarah pada pelestarian lingkungan secara umum, dan pemberhentian penambangan pasir pantai secara khusus. Atau dapat saja pemerintah desa mengangkat aparatur desa penjaga pantai dan laut yang diberikan insentif melalui dana desa atau alokasi dana desa, serta pemberian bantuan pemberdayaan kepada para penambang pasir agar mengalihkan kegiatannya pada hal-hal yang lebih produktif dan ramah lingkungan. Kita dapat mencontoh apa yang telah dilakukan oleh masyarakat dan aparatur desa Liya Mawi dalam menjaga lingkungan lautnya.
Tentu, terwujud atau tidak harapan tersebut sangat tergantung pada kemauan pemerintah desa setempat. Yang pasti bahwa masyarakat dan sejarah akan mencatat bahwa siapa yang sedang memegang amanah dan siapa pula yang membiarkan atau tidak membiarkan pasir pantai pada wilayah pemerintahannya terkuras habis oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Akhirnya kita hanya bisa berharap, semoga penambangan pasir pantai secara ilegal secepatnya
dihentikan. Wallahu a’lam bish-shawab.

Postingan terkait:

2 Tanggapan untuk "Pulau Sumanga; Riwayatmu Kini"

  1. ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

    Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) [ar-Rûm/30:41]

    BalasHapus
  2. Playing these roulette video games in the right place and on the right time, and the place is already sorted for you with Betiton™. With live roulette, is not a|there isn't any} influence 바카라사이트 made by software program or programming, so a player will be looking at at} what methods can influence probability and how probability can influence methods. Ultimately, the only technique that can benefit players when half in} live or virtual roulette is self-management. Knowing when to guess good, selecting the beneficial variants, and understanding that chasing losses is never a good thing. In the UK roulette is an especially well-liked on line casino recreation and one that every person should attempt at least of|no much less than} quickly as}.

    BalasHapus